 | Catatan Harian Mahasiswa Error | Mar 9, 2006 |
Secara masarcon sejak seminggu yang lalu kembali ke bangku kuliah, blog ini akan didedikasikan untuk curhat curhat gila ala mahasiswa error ... hehehehhe ... :p Udah seminggu ini mulai kuliah. Nggak tahu, mau bilang asik atau bete yah, secara banyak banget libutnya. Senin dosennya bolos, rabu coblosan pilihan gubernur, dan kamis dapat sms dari staff pasca kalau libur lagi seperti kemarinnya. Bukannya apa apa, tapi karena bapak ibu dosen yang baik hati itu sedang simposium di Pontianak. Hiyah, hari ini mahasiswa bandel masuk kuliah lagi yah ... :p Dalam masa ber-islam-nya, kartini telah menemukan pencerahan dalam tahapan ini ada tiga sikap yang dipeluk Kartini. Mendukung Poligami, Domestifikasi Perempuan dan Anti Barat. Tidak percaya ? Berikut ini buktinya : 1. Kartini Sendiri Berpoligami Kartini menikah dengan bupati Rembang, Raden Adipati Joyodiningrat, yang sudah pernah memiliki tiga istri. Kartini menikah pada tanggal 12 November 1903. Dalam sebuah surat kepada Nyonya Abendanon, Kartini mengungkap tidak berniat lagi untuk sekolah karena ia sudah akan menikah. "...Singkat dan pendek saja, bahwa saya tiada hendak mempergunakan kesempatan itu lagi, karena saya sudah akan kawin..." Padahal saat itu pihak departemen pengajaran Belanda sudah membuka pintu kesempatan bagi Kartini dan Rukmini untuk belajar di Betawi. Tentang pernikahan poligaminya, Kartini juga mengatakan bahwa dia tidak menyesal. 2. Sekolah yang didirikan Kartini adalah Sekolah Kepandaian Perempuan. Jenis sekolah yang akan mendomestikkan wanita makin dalam. Kartini diberi kebebasan dan didukung mendirikan sekolah wanita di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor kabupaten Rembang, atau di sebuah bangunan yang kini digunakan sebagai Gedung Pramuka. Berkat kegigihannya Kartini, kemudian didirikan Sekolah Wanita oleh Yayasan Kartini di Semarang pada 1912, dan kemudian di Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon dan daerah lainnya. Nama sekolah tersebut adalah "Sekolah Kartini". Yayasan Kartini ini didirikan oleh keluarga Van Deventer, seorang tokoh Politik Etis. Pada saat menjelang pernikahan, terdapat perubahan penilaian Kartini soal adat Jawa. Ia menjadi lebih toleran. Ia menganggap pernikahan akan membawa keuntungan tersendiri dalam mewujudkan keinginan mendirikan sekolah bagi para perempuan bumiputra kala itu. Dalam surat-suratnya, Kartini menyebutkan bahwa sang suami tidak hanya mendukung keinginannya untuk mengembangkan ukiran Jepara dan sekolah bagi perempuan bumiputra saja, tetapi juga disebutkan agar Kartini dapat menulis sebuah buku. Klimaksnya, nur hidayah itu membuatnya bisa merumuskan arti pentingnya pendidikan untuk wanita, bukan untuk menyaingi kaum laki-laki seperti yang diyakini oleh kebanyakan pejuang feminisme dan emansipasi, namun untuk lebih cakap menjalankan kewajibannya sebagai ibu. Ibu Kartini menulis: “Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama. [Surat Kartini kepada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1902]. Pikiran beliau ini mengalami perubahan bila dibandingkan dengan pada waktu fase sebelum hidayah, yang lebih mengedepankan keinginan akan bebas, merdeka, dan berdiri sendiri. Kartini memiliki cita-cita yang luhur, yaitu mengubah masyarakat, khususnya kaum perempuan yang tidak memperoleh hak pendidikan, juga untuk melepaskan diri dari hukum yang tidak adil dan paham-paham materialisme, untuk kemudian beralih ke keadaan ketika kaum perempuan mendapatkan akses untuk mendapatkan hak dan dalam menjalankan kewajibannya. Beberapa surat Kartini di atas setidaknya menunjukan bahwa Kartini berjuang dalam kerangka mengubah keadaan perempuan pada saat itu agar dapat mendapatkan haknya, di antaranya menuntut pendidikan dan pengajaran untuk kaum perempuan yang juga merupakan kewajibannya dalam Islam, bukan berjuang menuntut kesetaraan (emansipasi) antara perempuan dan pria sebagaimana yang diklaim oleh para pengusung ide feminis. Wallahu a‘lam bi muradih [Iwan Setiawan; Mahasiswa UIN Sunan Gunung Jati Bandung]. 3. Kartini Sadar dan beralih menjadi Pendukung Gerakan Anti Hegemoni Barat Pikiran beliau ini mengalami perubahan bila dibandingkan dengan pada waktu fase sebelum hidayah, yang lebih mengedepankan keinginan akan bebas, merdeka, dan berdiri sendiri. Kyai, selama kehidupanku baru kali inilah aku sempat mengerti makna dan arti surat pertama dan induk al-Quran yang isinya begitu indah menggetarkan sanubariku. Maka bukan bualan rasa syukur hatiku kepada Allah. Namun aku heran tak habis-habisnya, mengapa para ulama saat ini melarang keras penerjemahan dan penafsiran al-Quran dalam bahasa Jawa? bukankah al-Quran itu justru kitab pimpinan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?” Begitu komentar Kartini ketika bertanya kepada gurunya, Kyai Sholeh Darat. Pemikiran Kartini berubah, yang tadinya menganggap Barat (Eropa) sebagi kiblat, lalu menjadikan Islam sebagai landasan dalam pemikirannya. Hal ini setidaknya terlihat dari surat Kartini kepada Abendanon, 27 Oktober 1902 yang isinya berbunyi, “Sudah lewat masamu, tadinya kami mengira bahwa masyarakat Eropa itu benar-benar satu-satunya yang paling baik, tiada taranya. Maafkan kami, apakah Ibu sendiri menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah Ibu menyangkal bahwa di balik sesuatu yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal-hal yang sama sekali tidak patut disebut peradaban?” Demikian juga dalam surat Kartini kepada Ny. Van Kol, 21 Juli 1902 yang isinya, “Moga-moga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat umat agama lain memandang agama Islam patut disukai.” Setelah mempelajari Islam dalam arti yang sesungguhnya dan mengkaji isi al-Quran, Kartini terinspirasi dengan firman Allah SWT (yang artinya), “…mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman) (QS al-Baqarah [2]: 257),” yang diistilahkan Armyn Pane dalam tulisannya dengan, “Habis Gelap Terbitlah Terang”. referensi : - http://id.wikipedia.org/wiki/Kartini
- http://www.hizbut-tahrir.or.id/al-waie/index.php/2008/04/01/kartini-dan-islam/
- http://moeb.edublogs.org/2008/04/16/pandangan-keliru-terhadap-kartini-dan-emansipasi/
- http://taufik79.wordpress.com/2008/04/16/kartini-zaman-rasulullah-refleksi-buat-para-pejuang-emansipasi/
- http://www.hizbut-tahrir.or.id/al-waie/index.php/2008/04/01/kartini-bukan-pejuang-jender/
Benazir Bhutto tewas ditembak pada hari ini, Kamis 27 Desember 2007 sekitar pukul 6.16 waktu Pakistan. Bhutto sedang melakukan kampanye politik di Rawalpindi ketika tembakan dari penembak jitu mengenai leher dan dadanya. Sesaat setelah penembakan sebuah bom meledak di tempat yang sama dan menewaskan sedikitnya 15 orang pendukung Bhutto. Bhutto sempat di bawah ke rumah sakit terdekat tapi nyawanya tak bisa diselamatkan. Antara Ioanes Rakhmat dengan Fauzan Al Anshari 10 Alasan Berpoligami Ioanes Rakhmat Teman-teman, Sementara diskusi ttg poligami terus berlangsung di milis ini, dengan Bung Ade menjadi sasarannya, saya mulai berpikir, adakah alasan yang betul-betul sah untuk melarang poligami. Kalau kita semua memperjuangkan kehidupan yang toleran, bebas, demokratis, adil, humanistik, misalnya, seharusnya kita juga bisa menerima poligami (atau pun poliandri). Adakah alasan-alasan kemanusiaan dan rasional, dan bukan alasan skriptural, yang bisa membenarkan poligami?
Saya kira, ada cukup alasan untuk bisa membenarkan poligami. Alasan utama adalah alasan kebebasan individual: setiap orang bebas dan bertanggungjawab untuk menentukan pasangan hidupnya sendiri, entah jumlah pasangannya nol, satu, dua atau pun tiga. Kedua, alasan cinta; kalau seorang pria jatuh cinta pada seorang perempuan dan demikian juga sebaliknya, maka pasangan ini berhak untuk kawin kendatipun ini bukan perkawinan pertama mereka dan juga bukan dengan pasangan pertama. Alasan ketiga, alasan ekonomis: kalau seorang laki-laki bisa menghidupi ekonomi sekian istri dengan semua anak mereka, ia memiliki modal ekonomi kuat untuk berpoligami. Alasan keempat, alasan dukungan psikologis: jika istri-istri tua rela menerima kehadiran istri-istri muda, si suami tidak mengalami kendala internal untuk ia berpoligami.
Alasan kelima, berpoligami bukanlah tindakan kriminal (sekalipun ada UU Perkawinan), apalagi jika poligami dilakukan karena alasan cinta.
Alasan keenam, poligami tidak otomatis akan membuahkan ketidakadilan gender, jika si suami sungguh-sungguh dapat memperlakukan semua istrinya dengan respek, cinta dan keadilan.
Alasan ketujuh, poligami tidak otomatis menghina dan merendahkan kaum perempuan, malah bisa terjadi hal sebaliknya.
Alasan kedelapan, poligami tidak otomatis menodai atau merendahkan agama apapun, sejauh orang yang berpoligami tetap bisa menjalankan ibadahnya dengan setia.
Alasan kesembilan, poligami paralel dengan tindakan membentuk masyarakat yang jumlah anggotanya lebih besar.
Alasan kesepuluh, poligami adalah seni yang lebih advanced membangun rumah tangga; dan tidak ada satu karya senipun yang harus dimusuhi.
Nah, itu sepuluh alasan mengapa poligami saya kira pilihan yang masuk akal juga. Bagaimana reaksi Bung Ade?
Salam, Ioanes
Pandangan Tokoh Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) tentang Poligami Ceramah Fauzan Al-Anshari Pada acara ”Bedah Sabili: Pro-Kontra Poligami” Jumat, 15 Desember 2006, 13.30-15.00. Masjid Al-A’raf Kwitang. Assalamu’alaikum Wr wb. Poligami setuju nggak? Bapak-bapak: Setujuuu…. Setuju Bu? Ibu-ibu: tidaaak… Ya, kedua-duanya tidak ada gunanya. Baik setuju maupun tidak, saya terus poligami. Karena memang syariat itu tidak perlu dipolling dan divoting. Nah, jadi ini poligami antara teori dan praktek. Saya mau testimony sedikit, tapi saya sudah sampai pada kesimpulan, bahwa poligami itu, al-ashlu fi atta’addudi al-ibahah. Boleh. Jadi orang berpoligami itu halal. Haral apa halam? Bapak-bapak: halal…. Ibu, halal apa haram Bu? Ibu-ibu: haram… Ya, sekarang kita lihat. Ini begini. Ada kitab tafsir Ibn Katsir. Ini tafsir bil-ma’tsur, tafsir yang sudah diakui paling baik dari segi metodologinya oleh jumhur ulama, itu sepakat sekali batasan beristri itu 4. oleh sebab itu hokum poligami itu asalnya ibahah, boleh. Tapi pada kondisi tertentu, itu bias menjadi wajib. Misalnya anggota DPR itu, itu sudah wajib. Sebab kalau tidak, mesti maksiyat, gitu lho. Kenapa? Ada 3 faktor: Ilmu, al’ilmu qabla ‘amal. Mosok kepala bidang kerohanian nggak ngerti. Dari segi harta, sangguplah. Rumahnya mewah kan? Nah, bagian yang ketiga, masalah biologis. Kalau tidak terpenuhi, ya pasti akan menyimpang. Cuma ada satu lagi. Orang itu ada salahnya, takwa. Kalau takwa itu takut tidak bisa berbuat adil, takut kepada Allah. Tapi ada satu lagi, ”TAKUA: Takut Istri Tua”. Nah, kalau ini lain persoalannya. Jadi normalnya boleh. Oleh sebab itu, ini ada 2 kitab juga. 2 kitab ini sangat penting: menolak apa yang dihalalkan oleh Allah, itu bisa murtad. Poligami itu dihalalkan. Kalau anda mengatakan haram, itu murtad. Yang kedua, kalau menyamakan poligami dengan perzinahan, itu murtad. Kemudian yang menghalang-halangi orang yang mau poligami: kafir. Ayatnya bagaimana? Ini ayatnya: alladzina kafaru yulfiquna amwalahum liyashuddu ‘an sabilillah. Orang-orang kafir itu programnya: mengumpulkan dana untuk menghalang-halangi orang menjalankan syariat. Kafir itu. Yang ragu-ragu atas kafirnya orang kafir ini, kafir juga. Wa man syakka kufrol kafir, faqad kafar. Itu kesimpulan dari Pak Kyai (Azhami) tadi. Jadi diingat-ingat ya. Sekarang prakteknya. Prakteknya gampang sekali. Sekarang tanya aja, misalnya Anda mau kawin lagi ya. Tanya Bu Musdah kalau masih gadis ya. “Mau saya madu nggak?” “Nggak mau”. Ya sudah cari yang lain. Kalau dia mau, ya sudah bismillah, jalani. Jadi sebenarnya poligami itu tidak perlu diseminarkan, tapi dilaksanakan segera. Saya mengutip fatwa ulama Palestina. Jadi di situ disebut istilah jihad demografis. Jadi ada jihad yang berarti perang, ada jihad demografis, memperbanyak mujahid. Bagaimana caranya ini? Jadi kondisi objektifnya, banyak mujahid syahid, jadi banyak janda-janda. Oleh sebab itu maka sangat dianjurkan supaya mereka yang tadi: yang sanggup berbuat adil, supaya segera menikahi janda-janda, kemudian memperbanyak, reproduksi terus. Memang tidak disebut jandanya yang mantan model atau yang gimana, karena dalilnya itu “fankihu ma thaba lakum”, nikahi wanita yang kamu sukai, mau janda kek, mau gadis kek. Jadi dalilnya begitu. Nah, ternyata tok-cer. Hasilnya apa? Tingkat pertumbuhan penduduk Palestina meningkat 7 % per tahun, sementara Israel, 0,00 sekian persen. Maka peneliti Amerika mengatakan: “Ini mengkhawatirkan. Tanpa intifadah pun, Israel akan klelep.” Tahu klelep nggak? Klelep itu nggak bisa berenang, terus mati. Sekarang kalau dirata-rata umur orang Israel 40 tahun, maka tunggu 40 tahun lagi, pasti habis. Nggak usah dilemparin batu mesti habis sendiri. Nah, ini jihad demografis. Oleh sebab itu, kalau mau adu-aduan soal data ya, kita banyak sekali data kan? Cuma begini, saya percaya dengan ulasan, tadi yang disampaikan Bu Musdah, boleh mengawini janda, asal janda yang jelek, yang anaknya banyak. Nah, itu memang perasaan umum, perasaan publik. Jadi kenapa Aa Gym diprotes, itu karena yang dinikahi janda mantan model. Coba kalau yang dinikahi itu janda jelek, item, tungteng, gitu ya, itu saya tanya langsung pada sopir taksi. “Ya pak, kalau jandanya jelek sih, saya juga nggak protes.” Jadi artinya apa? Yang dilanggar Aa Gym itu bukan melanggar syariat, tapi melanggar perasaan umum. Bener nggak? Kemudian yang berikutnya: saya menikah pertama tahun 1986. Saya lahir 1966, istri saya yang pertama lahir 1961. itu juga nggak sengaja nikahnya. Karena saya mengantar. Karena ada murobbi-murobbi yang biasanya membina ukhti-ukhti, daun-daun muda itu biasanya kita prioritaskan. Sehingga ada yang … suka telat Pak. Namanya calon tua. Kemudian kasak-kusuk, bagaimana supaya dapat jodoh. Sudah diantar, ada ikhwan mau, sudah ketemu, “aduh, gimana nih. Udah, ente aja deh.” Waduh, gimana ini, nanti bisa kejatuhan tangga ini. Trus akhirnya kejatuhan tangga. Kita kan nganter, mak comblang, malah kita yang jadi. Itu namanya kejatuhan tangga, tapi tangganya empuk. Yang kedua juga begitu. Kelahiran tahun 1958. Saya antar, kejetuhan tangga lagi, empuk tapi. Yang ketiga, kelahiran 1964. begitu juga. Yang keempat ini, janda anak satu. Karena suaminya murtad. Lebih muda. Saya baru merasa: “Wah memang Nabi itu memang benar sekali. Pilihlah gadis yang muda-muda, karena biar bisa bermanja-manja, dan mulutnya manis.” Cuma saya ini sudah pol, Pak. Ada dalil nggak untuk bisa nambah lagi. Kalau sebagian ulama Syiah boleh ya. Ada ulama dalam Ibn Katsir dikatakan, berdasarkan hadits Nabi: “Ya ma’syara al-syabab, man istatha’a minkum al-ba’a fal-yatazawwaj”. Wahai para pemuda, siapa yang punya al-ba’ah, sanggup memikul beban rumah tangga, menikahlah. Kalau ukurannya sanggup, nggak terbatas ya. Tapi saya ikut yang jumhur ulama. Itu keyakinan yang saya punya. Soal adil. Ini adil yang selalu dipersoalkan. Saya tanya kepada istri-istri. “Siapa yang merasa dizalimi oleh saya, silakan mengajukan khuluk.” Mengajukan khuluk itu mengajukan cerai. Saya mampunya begini. Ngasih makan, sebulan 100 ribu. Kalau nggak cukup ya puasa. Terserah mau puasa Senin Kamis atau puasa Daud silakan. Kalau mundur ya alhamdulillah, saya akan menikah lagi. Begitu hari ini mundur, besok saya akan langsung menikah lagi. Jadi sudah ngantri rupanya yang mau dimadu itu. Jadi ini persoalannya begini, mudah sekali. Adil itu begini Bu, jangan dibawa kepada perasaan. Ketika Nabi menggilir istrinya, beliau berdoa begini: “Allahumma hadza qasmy, wala talunny fi ma tamlik wal amlik.” Ya Allah, inilah bagianku. Janganlah engkau mencela aku terhadap sesuatu yang tak Engkau miliki, tapi aku miliki, yaitu hati. Jadi, jangankan pada istri-istri, pada anak saja: misalnya ada anak 4. Anak saya 20 ya. Itu nggak sama, yang satu agak nakal, yang satu agak soleh, yang satu kayak bapaknya, yang satu kayak ibunya. Itu begitu. Itu kalau soal perasaan. Nah, apalagi ini istri, maaf ya, kan istri-istrinya beda-beda ya. Gayanya pun beda-beda. Sentuhannya juga beda. Bahasanya, logatnya beda-beda juga. Ada yang aslinya dari Tegal, itu kalau ngomong saya pengen ketawa. Ada yang dari Jogja, kalau ngomong lemah lembut, jadi belum apa-apa udah merangsang bawaannya. Ada yang dari Jakarta, wah. Gitu ya. Jadi begini ya, kenapa Rasulullah SAW menikahi janda. Ini bukan sunnah yang harus kita ittaba’. Ini kekhususan Rasulullah. Sebab kalau kita mengikuti sunnah seperti Rasulullah, kita harus menikahi janda berumur 40 tahun seperti Khadijah. Susah ini. Bisa-bisa nggak jadi kawin kita. Ya kan? Jadi dalam pengertian ini, jangan sampai kita memahami sunnah itu seperti itu. Kemudian yang kedua, kenapa Rasulullah SAW melarang Ali memadu anaknya Abu Jahal. Rasulullah tidak suka anaknya itu disatu-rumahkan dengan anak daripada musuh Rasulullah SAW. Nah oleh sebab itu, dalam memahami konteks kenapa Rasulullah tidak langsung ta’addud pada awalnya, itu semuanya adalah kekhususan beliau sendiri. Untuk umatnya, sudah bisa ditakhsis tadi dalam segi pembatasan. Walaupun ada juga pendapat ulama lain yang berpendapat jumlahnya 9 ada yang tak terbatas. Sekarang persoalannya di mana? Dalam soal ta’addud ini, itu persoalannya ada di tangan kaum pria. Itu kan perintahnya “fankihu ma thaba lakum minannisa’i..” Ayatnya udah jelas khitabnya untuk kita. Untuk laki-laki atau untuk perempuan? Ya untuk laki-laki. Ya kan? Kemudian hadits Nabi “Ya ma’syara al-syabab..” itu kepada pemuda. Jadi lancar tidaknya poligami tergantung antum semua laki-laki ini. Bukan tergantung wanita. Kalau begitu. Kalau Anda mau ta’addud, diam-diam kita adakan konsultasi: bagaimana mengatur strategi dan taktik, supaya istri-istri kita itu tidak.. Nah, saya ingin memberikan pengalaman yang penting. Ayat “fankihu…” Jadi memang rumah itu adalah tempat yang paling alami untuk wanita-wanita, ibu-ibu melahirkan generasi yang luar biasa. Tidak ada mujahid yang tidak keluar dari pembinaan di rumah itu. Ini persoalannya. Justru munculnya protes itu datangnya dari wanita-wanita yang biasa keluar rumah, yang menuntut karir dan sebagainya. Ini persoalannya. Saya sudah identifikasi. Tetapi saya harus menyampaikan juga, justru pendapat dari Konggres NOU (?) yang di Uthah, sebenarnya poligami itu adalah kondisi yang paling ideal untuk wanita karir, feminis seperti Bu Musdah dan lain sebagainya. Kenapa? Sebab dia ini membutuhkan karir yang tinggi. Kalau harus melayani terus suaminya yang satu itu, capek kasihan. Dia habis stress bantah-bantahan diskusi, pulang, terus suaminya “ Ayo Mak..” “Entar-entar, gue lagi stress nih.” Gitu ya. Biasanya begitu. Tapi kalau ada istri yang kedua, ketiga, keempat, kalau dia stress, itu bisa langsung masuk kamar kan? Sendiri menyelesaikan masalahnya, tanpa merasa dosa bahwa dia tidak melayani suami. Kan begitu? Coba kalau dia istrinya cuman satu saja. Suaminya ada di rumah, lagi nungguuu gitu ya. “Kapaaan istri saya pulang ini ya.” Begitu pulang udah capek. Bisa-bisa pembantu yang dimakan. Bisa-bisa anak sendiri yang dimakan. Nah, makanya harus ada manajemen nafsu. Betul. “Innannafsa la’ammaratun bissu’ illa ma rahima rabbih”. Islam itu tidak membunuh nafsu. Kalau nafsu dibunuh, Anda tidak akan lahir. Anda ini kan hasil dari nafsu-nafsu ini semuanya, termasuk saya juga, kan gitu. Ya nggak? Nafsu bapak-bapak kita itu. Nafsu itu tidak boleh dibunuh tapi disalurkan. Nih, salurannya begini Pak, poligami. Nah, oleh sebab itu, mudah-mudahan keterangan ini, ya testimoninya agak singkat saja, tapi yang jelas, ukuan adil tadi Allah dan Rasulnya sudah menjelaskan secara syar’i, dalam praktek maupun dalam teori. Demikian yang bisa saya sampaikan. Wassalamu’alaikum Wr. Wb. (21 Nov 2007, 66 x , Komentar <http://fajar.co.id/news.php?newsid=46424#bacakomen> ) Berlaku di 20 Desa BULUKUMBA -- Resah dengan maraknya pencurian di wilayahnya, 20 perwakilan desa di Kecamatan Gantarang, sepakat memberlakukan potong tangan bagi pelaku yang tertangkap tangan.Kesepakatan itu terungkap setelah dilakukan pertemuan seluruh kepala desa, Minggu, 18 November lalu. Para kepala desa juga sepakat untuk membentuk Forum Peduli Kamtibmas Pallawa Lipu. Ditunjuk sebagai Koordinator Kecamatan adalah Kepala Desa Gantarang, Andi Rukman. Selain pencuri, pelaku judi dan penikmati muniman keras (miras) juga dikenakan hukuman cambuk sebanyak 80 kali. Beberapa bulan belakangan ini, pencurian memang marak di wilayah Polsek Gantarang. Selain kendaraan roda dua, hewan peliharaan masyarakat seperti sapi dan kuda, juga menjadi sasaran pencuri. Nyaris setiap malam, ada saja desa yang disatroni maling. Anehnya, hingga saat ini tak satu pun pencuri yang berhasil dibekuk polisi. Jaringan pencuri yang sering beroperasi di daerah ini memang dikenal sangat rapi dan terorganisir. Desa Padang Kecamatan Gantarang yang dikenal sebagai desa percontohan pelaksanaan perda syariat Islam, sudah memberlakukan hukuman cambuk sejak beberapa tahun lalu. Tercatat, sudah beberapa kali warga setempat dihukum cambuk. "Masyarakat resah dengan maraknya pencurian di desa. Hukum ini kita sepakati untuk meminimalisir tindakan kriminal," kata Andi Rukman, Selasa, 20 November. Andi Rukman menegaskan, mereka kurang percaya lagi dengan kinerja aparat kepolisian. Pelaku yang tertangkap tangan, proses hukumnya sangat lama. Sanksinya juga ringan sehingga membuat pelaku tidak jera. "Polisi mengaku selalu kesulitan mendapatkan barang bukti," ujarnya. Kendati demikian, lanjut Rukman, pihaknya tetap berhati-hati menerapkan hukuman ini agar tidak bertentangan dengan aturan hukum yang berlaku. Kepala Polsek Gantarang, AKP Muhammad Jufri, mengaku menyambut positif terhadap kesepakatan seperti itu. Hanya saja, kata Kapolsek, terlebih dahulu harus disetujui oleh bupati atau muspida setempat. Sebab, aksi itu cukup rawan karena masyarakat bisa berbuat anarkis dan main hakim sendiri. (a baca juga : http://masarcon.multiply.com/journal/item/59/Penerapan_Syariah_Islam Sekali sekali baca buku sejarah ada gunanya kok. Main deh ke CCF jl. Wijaya atau cari di Gramedia, buku karya Dennys Lombard yang bahasannya tentang Sultan Iskandar Muda. Ada yang bikin meringis pisan. Atau kalau mau cepat bisa lihat di sini. === komen mas imam brotoseno: ingat pelacuran dan sex adalah pekerjaan tertua dan pertama dalam peradaban manusia..dimana saja..Tak kecual Indonesia, sejarah mengajarkan sex dan kekerasan sangat akrab di Indonesia, mau dari Sultan, ulama, Raja, Rakyat jelata, Presiden..Kolam Taman sari milik kasultanan Yogja, juga menyediakan kamar yang bisa melihat langsung selir selir atau penari yang mandi, sehingga sultan bisa langsung manggil untuk ” sepukul dua pukul” di peraduan. Mengenai Sultan Iskandar Muda, bukan dia yang menolak,.justru dia yang minta dikirimi dua gadis bule ( baca KERAJAAN ACEH Jaman Sultan Iskandar Muda 1607 - 1639 ) by Denys Lombard sebuah disertasi doktor tahun 1963 di Ecole Pratique des Hautes Etudes, Perancis. Ada yang menarik dalam transkrip terjemahan surat Iskandar Muda is mengatakan,..” anak laki laki yang nanti mereka lahirkan akan saya angkat menjadi raja di Priaman, Pasaman dan pesisir tempat anda mengambil lada “..Jadi rupanya Sultan sudah ‘ konak ‘ melihat bule dan menjanjikan raja bagi keturunannya. Cuma pengirimannya nggak jadi, kalaupun jadi pasti yang dikirim pelacur dari Soho, London..he he === poing deh ama ini sultan ... :P Masih ingat dengan buku pak Tjahyadi Takariawan yang sangat menghebohkan segenap bumi persada PKS itu ? Sampai sampai beritanya dijadikan blog tersendiri di sini.  Berita terkini, sangking hebohnya si bapak ini melakukan autokritik di tubuh pks, sampai sampai pihak lawan ideologisnya pun ikut ikut memberikan apresiasi terhadap buku si bapak. Sudah sampai titik beda label, namun semangat sama sepertinya. Terungkapnya waktu Ade Armando yang baru baru ini berpoligami kena kritikan kiri kanan ... === Dari Nong Darul Mahmada === Kak ade dan teman2, ada buku yang baik sekali tentang poligami dari pada kita merujuk buku fiksi, meski judulnya bukan tentang poligami tapi monogami: "Bahagiakan Diri dengan Satu Istri" yang ditulis oleh Ustad Cahyadi, salah seorang anggota Dewan Syuro PKS. Buku ini membuat geger aktivis PKS dan petinggi2nya karena sudah jadi rahasia umum kalau mayoritas suami2 PKS ini berpoligami. menariknya buku ini diberi pengantar mbak rahayu, isteri presiden PKS. makanya ada isu buku ini sempat ditarik dari peredaran. sangat susah sekali menemukan buku ini di toko buku sekarang. Buku ini menarik karena mengulas fakta-fakta yang tentang jeleknya poligami yang memang menjadi kecenderungan partai beliau. meski beliau sendiri menulis buku ini bukan dalm rangka menolak poligami tapi beliau bilang bahwa poligami membawa banyak mudharat khususnya untuk perempuan dan perluasan dakwah.
menurut ustad cahyadi, para pelaku poligami selalu merujuk perbuatannya tersebut mengikuti sunah Nabi atau ayat bolehnya poligami. padahal kalau konsisten mau mengikuti sunah Nabi mestinya para suami itu monogami. karena dalam kehidupan rumah tangga Nabi, Nabi itu sangat monogami. Kehidupan rumah tangga Nabi dengan Khadijah itu berlangsung 25 tahun, Nabi baru menikah lagi setelah wafat Khadijah dan kemudian berpoligami itu cuma 10 tahun. Ayat itu pun titik tekannya pada sikap suami yang bisa berlaku adil, bukan pada bolehbya poligami tersebut. untuk sekualitas lelaki seperti Nabi saja, Nabi juga kerepotan memenej perasaannya dan isteri2nya seperti yang diulas sangat bagus oleh Aisyah Ibn Syati, apalagi lelaki yang tidak punya kualitas kepribadian seperti beliau. Kata Ustadz cahyadi, kita ini bukan Nabi, isteri kita pun bukan Aisyah :-)
buku ini menurut saya memang luar biasa, meski penulisnya tak bertujuan menolak hukum bolehnya poligami. tapi argumen dan fakta-fakta yang ia kemukakan, karena background penulis sebagai penasihat pernikahan dan banyak sekali yang mengadu ke beliau baik istri yang dipoligami atau suami yang berpoligami yang datang langsung atau lewat telpon dan sms, sangat menohok dan kuat bahwa poligami memang banyak mudharatnya dan layak untuk ditentang.
ada juga yang beralasan suami berpoligami itu karena dari pada selingkuh mendingan poligami. Selingkuh itu menurut kebanyakan yang berpoligami kan zina. menurutnya, kok bisa ya poligami dibandingkan dengan zina. menurutnya ini cara berpikir yang tak nyambung, dan ungkapan tersebut tidak pada tempatnya sebagai alasan untuk melakukan poligami. bukankah pilihannya banyak dan tidak harus melakukan poligami? beliau memberi alternatif. pilihlah salah satu untuk para suami, kan lebih baik: 1. berpuasa untuk menjaga diri 2. kembali ke isteri 3. onani dan masturbasi 4. berkebiri 5. berlari-lari untuk membuang energi 6. bertobat setiap hari 7. aktif dalam kegaitan berorganisasi 8. segera naik haji 9. dan banyak lagi jadi ga hanya pilihannya berzina tokh? lihat hal.99
dengan memparodikan lagu Aa Gym, ustadz cahyadi menulis:
Jagalah istri, jangan kau sakiti sayangi istri, amanah ilahi Bila diri kian bersih, satu isteri terasa lebih bila bisa jaga diri, tidak perlu menikah lagi
Bila suami berpoligami dakwah akan terbebani demarketing menjadi jadi dakwah bisa dibenci
jagalah istri, jangan khianati jagalah diri, tak perlu poligami
luar biasa kan? kita sudah melihat buktinya. yang paling kasat mata adalah poligami Aa gym dan kak ade ini (he..he...joke kak ade, jangan dianggap serius, saya tetap respek kok). seandainya sebelum kak ade memutuskan poligami membaca buku ini atau datang ke ustadz cahyadi, saya yakin kak ade tak akan memutuskan poligami. tapi ya itu ya...kita ngga tahu jalan hidup manusia..hehehe..wallahu'alam bissawab.
salam, Nong
Ps: kak ade, jangan marah ya? jangan samain saya dengan MUI, plis.. Jilbab saja tidak cukup, karena itu yang bercelana jeans juga harus digaruk jadi orang Islam saja tidak cukup, karena itu yang tidak puasa harus diteruk tapi jadi koruptor sudah cukup "oke", karena itu tidak ada ustadz yang mempermasalahkan jadi poligamor juga cukup "baik", karena itu tidak ada kyai yang meributkan http://dewinova.multiply.com/photos/album/10 copy paste dari milis alumni === KAZ : Cara Mudah Mencaplok Negara Tetangga (SG) Beberapa bulan sebelum hari H, mungkin kita perlu seludupkan sebanyak2nya orang2 sebagai berikut ke Sg supaya chaos itu terwujud: 1) orgil (yg gila beneran) 2) orang2 stres (yg sudah berkali2 gagal bunuh diri) 3) preman, tukang palak, centeng, garong, perampok, penculik, residivis, maniak, sumanto, homo, lesbi, dkk 4) laskar jihad, FPI, laskar kristus, orang2 ekstrim kiri/kanan, bekas PKI, dkk 5) keluarga para TKW korban keganasan majikan Sg 6) segala jenis dukun, hantu, dkk 7) hacker, cracker, dkk 8) Pollycarpus dan "orang kita" nya 9) Roy Suryo KAZ === (dari milis Pantau): ========================== Nama saya Budiman Bachtiar Harsa, 37 tahun, WNI asal Banten, karyawan di BUMN berkantor di Jakarta. Kasus pemukulan wasit Donald Peter di Malaysia, BUKAN kejadian pertama. Behubung sdr Donald adalah seorang "Tamu Negara" hingga kasusnya terexpose besar-besaran. Padahal kasus serupa sering menimpa WNI di Malaysia. BUKAN HANYA TKI Atau Pendatang Haram, tapi juga WISATAWAN. Tahun 2006, bulan Juni, saya dan keluarga (istri, 2 anak, adik ipar), pertama kalinya kami "melancong" ke Kuala Lumpur Malaysia. (Kami sudah pernah berwisata ke negara2 lain, sudah biasa dengan berbagai aturan imigrasi). Hari pertama dan kedua tour bersama Travel agent ke Genting Highland, berjalan lancar, kaluarga bahagia anak-anak gembira. Hari ketiga city tour di KL, juga berjalan normal. Malam harinya, kami mengunjungi KLCC yang ternyata sangat dekat dari Hotel Nikko, tempat kami menginap. Usai makan malam, berbelanja sedikit, adik ipar dan anak-anak saya pulang ke hotel karena kelelahan, menumpang shuttle service yang disediakan Nikko Hotel. Saya dan istri berniat berjalan-jalan, menikmati udara malam seperti yg biasa kami lakukan di Orchrad Singapore, toh kabarnya KL cukup aman. Mengambil jalan memutar, pukul 22.30, di dekat HSC medical, lapangan dengan view cukup bagus ke arah Twin Tower. Saat berjalan santai, tiba2 sebuah mobil Proton berhenti, 2 pria turun mendekati saya dan istri. Mereka tiba-tiba meminta identitas saya dan istri, saya balas bertanya apa mau mereka. Mereka bilang "Polis", memperlihatkan kartu sekilas, lalu saya jelaskan saya Turis, menginap di Nikko hotel. Mereka memaksa minta passport, yang TIDAK saya bawa. (Masak sih di negeri tetangga, sesama melayu, speak the same language, saya dan istri bisa berbahasa inggris, negara yg tak butuh visa, kita masih harus bawa passport?). Salah satu "polis" ini bicara dengan HT, entah apa yg mereka katakan dengan logat melayunya, sementara seorang rekannya tetap memaksa saya mengeluarkan identitas. Perliaku mereka mulai tak sopan dan Istri saya mulai ketakutan. Saya buka dompet, keluarkan KTP. Sambil melotot, dia tanya :"kerja ape kau disini?" saya melongo... kan turis, wisata. Ya jalan-jalan aja lah, gitu saya jawab. Pak polis membentak dan mendekatkan mukanya ke wajah saya: KAU KERJA APE? Punya Licence buat kerja? Wah kali dia pikir saya TKI ilegal. Saya coba tetap tenang, saya bilang saya bekerja di Jakarta, ke KL untuk wisata. Tiba-tiba salah satu dari mereka mencoba memegang tas istri, dan bilang: "mana kunci Hotel? "... wah celakanya kunci 2 kamar kami dibawa anak dan ipar saya yg pulang duluan ke hotel. Saya ajak mereka ke hotel yang tak jauh dari lokasi kami. Namun pak Polis malah makin marah, memegangi tangan saya, sambil bilang: Indon... dont lie to us. Saya kurung kalian... Jelas saya menolak dan mulai marah. Saya ajak mereka ke hotel Nikko, dan saya bilang akan tuntut mereka habis2an. sambil memegangi tangan saya, tuan polis meludah kesamping, dan bilang: kalian semua sama saja... Saat itu sebuah mobil polisi lainnya datang, pake logo polisi, seorang polisi berseragam mendekat. Di dadanya tertulis nama: Rasheed. Saya merapat ke pagar taman sambil memegang istri yang mulai menangis. Melawan 3 polis, tak mungkin. Mereka berbicara beritga, mirip berunding. Wah, apa polis malaysia juga sama aja, perlu mau nyari kesalahan orang ujung2nya merampok? Petugas berseragam lalu mendekati saya, meminta kami untuk tetap tenang. Saya bertanya, apa 2 orang preman melayu itu polisi, lalu polisi berseragam itu mengiyakan. Rupanya karena saya mempertanyakan dirinya, sang preman marah dan mendekati saya, mencengkram leher jaket saya, dan siap memukul, namun dicegah polisi berseragam. Polisi berseragam mengajak saya kembali ke Hotel untuk membuktikan identitas diri. saya langsung setuju, namun keberatan bila harus menumpang mobil polisi. Saya minta untuk tetap berjalan kaki menuju Nikko Hotel, dan mereka boleh mengiringi tapi tak boleh menyentuh kami. Akhirnya kami bersepakat, namun polisi preman yang sempat hampir memukul saya sempat berkata: if those indon run, just shoot them... katanya sambil menunjuk istri saya. Saya cuma bisa istigfar saat itu, ini rupanya nasib orang Indonesia di negeri tetangga yang sering kita banggakan sebagai "sesama melayu". Diantar polisi berseragam saya tiba di Nikko Hotel. Saya minta resepsionis mencocokan identitas kami, dan saya menelpon adik ipar untuk membawakan kunci. Pihak Nikko melarang adik saya, dan mengatakan kepada sang Polis, bahwa saya adalah tamu hotel mereka, WNI yang menyewa suites family, datang ke Malaysia dengan Business class pada Flight Malayasia Airlines. Pak Polis preman mendadak ramah, mencoba menjelaskan bahwa di Malaysia mereka harus selalu waspada. Saya tak mau bicara apapun dan mengatakan bahwa saya sangat tersinggung, dan akan mengadukan kasus ini, dan "membatalkan rencana bisnis dengan sejumlah rekan di malaysia" (padahal saya tak punya rekan bisnis di negeri sial ini). Polisi berseragam berusaha tersenyum semanis mungkin, berusaha keras untuk akrab dan ramah, petugas Nikko Hotel kelimpungan dan berusaha membuat kami tersenyum. Setelah istri saya mulai tenang, saya mengambil HP P9901 saya dan merekam wajah kedua polisi ini. Keduanya berusaha menutupi wajah, meminta saya untuk tidak merekam wajah mereka. Istri saya minta kita mengakhiri konflik ini, dan sayapun lelah. Kami tinggalkan melayu-melayu keparat ini, tanpa berjabat tangan. Sepanjang malam saya sangat gusar, dan esoknya kami membatalkan tur ke Johor baru, mengontak travel agent agar mencari seat ke Singapore. Siang usai makan siang, saya tinggalkan Malaysia dengan perasaan dongkol, dan melanjutkan liburan di Singapore. Mungkin saya sial? ya. Mungkin saya hanya 1 dari 1000 WNI yang apes di Malaysia? bisa. Tapi saya catat bahwa bila saya pernah dihina, diancam, bahkan hampir dipukuli, bukan tak mungkin masih ada orang lain mengalami hal yg sama. Jadi, kalau hendak berlibur di Malaysia, sebaiknya pikir masak2. Jangankan turis, Rombongan atlet saja bisa dihajar polisi Malaysia. Bayangkan bila perlakuan seperti ini dilakukan dihadapan anak kita. Tentu anak akan trauma, sekaligus sedih. Hati-hati pada PROMOSI WISATA MALAYSIA. Di Malaysia, WNI diperlakukan seperti Kriminal.
Ya untuk belajar dari sejarah. Teman teman HT sudah berbaik hati mengingatkan kita setiap saat, supaya peradaban yang sedang kita bangun tidak runtuh karena kesalahan kita sendiri. Karena itu, kita harus kuat. Jangan sampai digerogoti oleh para pemeluk ideologi terntentu yang ingin mengubah dasar negara dan ingin melakukan persekusi pada kalangan minoritas, hanya karena berbeda ideologi dan berbeda keyakinan. Dari diskusi di milis wm, belajar dari sejarah tentang runtuhnya khilafah oleh umat muslim sendiri. === Sebenarnya HT pernah menulis buku "Bagaimana Khilafah Dihancurkan", ditulis Abdul Qadim Zallum, amir ke-2 HT. Dalam buku itu dijelaskan beberapa faktor mengapa khilafah sampai lenyap dari muka bumi.
Sama seperti yang anda pahami, Zallum juga menuding konspirasi Yahudi dan Kristen Eropa sebagai sebab hancurnya khilafah. To be specific, hasutan dari orang kafir-lah yang menyebabkan kaum muslimin memberontak terhadap khilafah.
Kalau teori anda dan Zallum itu betul, berarti orang Islam itu bodoh. Sebegitu mudahnya dihasut sampai mau meruntuhkan negara sendiri. Saya tidak percaya orang Islam sebodoh itu sampai mau meruntuhkan negaranya sendiri. Pasti ada sebab lain, bukan cuma soal hasut-menghasut. Lagipun, kalau memang khilafah betul2 mensejahterakan umat (seperti yang dipropagandakan HT), tidak mungkin orang Islam mau meruntuhkan khilafah. Ibaratnya, tidak mungkin istri menyeleweng kecuali kalo suaminya tidak perkasa di ranjang, iya nggak?
Ketika satu jari menuding orang lain, keempat jari lain menuding diri sendiri. Filosofi inilah yang saya anut untuk meyakini bahwa hancurnya khilafah lebih banyak disebabkan oleh kebobrokan internal ketimbang karena pengaruh eksternal.
OK, kembali ke pertanyaan anda: "Mas Tejo dapat referensi dari mana bahwa khilafah (Turki/Utsmani) itu sampe diruntuhkan oleh kaum muslimin sendiri?"
Jawaban saya:
1. Pajak yang mencekik leher.
Sebelum era Tanzimat, khilafah Utsmaniyyah menggantungkan pendapatan negara sepenuhnya dari pajak. Untuk menggenjot pendapatan, khilafah menciptakan beberapa jenis pajak yang tidak pernah dikenal dalam fiqih Islam, misalnya pajak kepala (Resm-i çift untuk yang sudah menikah dan Resm-i mücerred untuk bujangan). Abu Su'ud Effendi, Sheyhul Islam pada pertengahan abad ke-16, menafsirkan pajak kepala sebagai misaha yang dikenal oleh fiqih Islam. Argumentasi tersebut jelas hanya dicari-cari karena çift diadopsi dari pajak kepala di masa Bizantium yang dikenal dengan nama zeugaratikion [Metin Cosgel, Efficiency and Continuity in Public Finance: The Ottoman System of Taxation, Department of Economics Working Paper Series, University of Connecticut (2004)].
Tidak peduli muslim atau kafir, siapa sih yang tahan dibebani pajak ini-itu?
2. Kebobrokan ekonomi.
Selama era Sultan Mahmud II (1808-1839) atau sebelum era Tanzimat, nama dan bentuk mata uang khilafah Utsmaniyyah telah berganti 35 kali untuk koin emas, 37 kali untuk koin perak, dan nilai tukar kuruş terhadap poundsterling telah merosot dari 23 pada tahun 1814 menjadi 104 pada tahun 1839. Untuk menanggulangi hal ini, Reformasi Moneter diluncurkan pada tahun 1844.
Jika ekonomi sudah berantakan, rezim sangat mudah diruntuhkan. Ingat krisis ekonomi yang berujung pada runtuhnya Orde Baru?
3. Pemberontakan.
Beberapa yang terkenal misalnya Revolusi Jelali di Anatolia (1519-1620) dan Revolusi Janissary (1622). Walaupun tidak secara langsung meruntuhkan khilafah, kedua pemberontakan ini memberi pesan keras kepada khilafah Utsmaniyyah bahwa ada ketidakpuasan terhadap cara mereka mengadministrasi negara. Revolusi Jelali misalnya, dipicu oleh tingginya pajak dan kebobrokan moral aparat negara.
Yang paling memukul dan menyebabkan hancurnya khilafah adalah serangkaian pemberontakan pada abad 19. Yang luar biasa, bukan cuma wilayah dominan Kristen seperti Yunani yang memerdekakan diri, wilayah yang mayoritas Muslim pun ikut melepaskan diri dari khilafah.
Bosnia-Herzegovina misalnya, mencoba memberontak dari khilafah pada tahun 1831 dipimpin Husein Gradaščević. Alasannya: ketidakpuasan atas reformasi politik dan ekonomi oleh Sultan Mahmud II.
Revolusi Arab tahun 1916 juga menunjukkan bahwa kaum muslimin sendiri sudah muak dengan khilafah (herannya, kok orang jaman sekarang balik menggandrungi khilafah). Dalam pidato proklamasi kemerdekaan Arab dari penjajahan "orang Turki", Syarif Hussein bin Ali menyebut merosotnya pamor khilafah menyebabkan rasa malu bagi bangsa Arab.
Kalau memang khilafah "oke-oke saja" seperti dipropagandakan HT selama ini, apa mungkin gerakan pemberontakan bermunculan di mana-mana? Apa mungkin khilafah terjebak krisis ekonomi? Something fishy, tentu ada yang busuk dalam struktur khilafah.
Anda menuding-nuding Mustafa Kemal sebagai sumber gara-gara. Tahukah anda bahwa Mustafa Kemal-lah yang menyelamatkan Turki setelah habis diganyang tentara sekutu (Perancis, Rusia, Inggris) pada Perang Dunia I akibat kesemberonoan Khalifah Mehmed V Reshad mengomando "jihad" terhadap sekutu yang militernya jauh lebih maju?
Istanbul, ibukota khilafah, ada di bawah kekuasaan Inggris pasca kekalahan di PD I. Mustafa Kemal adalah orang yang memerdekakan Turki dari kekuasaan sekutu. Wajar jika Mustafa muak terhadap khilafah. Alih-alih mempertahankan wilayah Turki, eh malah memberi Istanbul secara gratis ke Inggris melalui perjanjian Mudros (1918).
salam, bimo
=== baca-baca diskusi diatas kok jadi ingat sama pelajaran sejarah, sebab sebab runtuhnya Majapahit. Non Muslim Ingin Pernikahannya diakui, Sementara Umat Muslim Justru Menyianyiakannya Kadang saya heran, tapi kok ini jadi kenyataan, bahkan banyak dari kalangan umat muslim yang sudah masuk kasta orang hebat, seperti misalnya aa Gym, yang mendukung nikah siri, bahkan nekad poligami tanpa ijin istri pertama. Sebenarnya umat Islam serius menjunjung tinggi nilai nilai keadilan dan menegakkan hukum tidak sih ? === http://www.indomedia.com/bpost/082007/28/kalsel/lbm13.htm Pengantin Kaharingan Diakui Negara TANJUNG, BPOST- Komunitas penganut kepercayaan seperti kejawen pada masyarakat Jawa dan Kaharingan di kalangan warga Dayak di Kalimantan kini berhak mencatatkan status perkawinannya, tanpa harus mencantumkan salah satu agama yang di akui pemerintah selama ini. Pemerintah RI telah mensahkan Undang-undang Nomor 23 Tahun 2006 tentang administrasi kependudukan. Petunjuk teknisnya diatur PP Nomor 37 Tahun 2007, tentang prosedur pembuatan akta perkawinan yang baru. Komonitas tersebut bisa mencatatkan perkawinannya ke Dinas Pencatatan Sipil (Dispencapil), serta mendapatkan buku nikah sesuai status kepercayaannya. ... [deleted] ... Agak aneh sekarang ini ibu Huzaimah T Yanggo ikut ikutan Quraish Shihab dengan bersikap liberal. Mereka bilang hukum Islam menganut azas monogami. kasian oom Eggi, jadi kekurangan teman ... :( === http://www.kompas.com/kompas-cetak/0708/27/swara/3793233.htm Senin, 27 Agustus 2007 Menguji UU Perkawinan di Mahkamah Konstitusi Perkawinan dalam Islam pada dasarnya menganut asas monogami. Karena itu, Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan menganut asas monogami. Pernyataan tersebut diungkapkan Prof Dr Quraish Shihab MA dan Prof Dr Hj Huzaemah T Yanggo di depan sidang Mahkamah Konstitusi (MK) di Jakarta, Kamis (23/8). Keduanya memberi pandangan sebagai saksi ahli pemerintah dalam sidang gugatan Undang-Undang Perkawinan (UUP) oleh M Insa sebagai pemohon. Dalam sidang ketiga tersebut, pemohon dan pemerintah (diwakili Dirjen Bimas Islam Prof Dr Nasaruddin Umar) mengajukan saksi ahli masing-masing. Dari pihak pemohon, saksi ahli adalah Dr Ahmad Sudirman Abbas MA dan Dr Eggi Sudjana SH MSi. Selain itu, juga didengar keterangan pihak terkait, yaitu dari Komisi Nasional Anti-Kekerasan terhadap Perempuan dan Jaringan Kerja Prolegnas Pro Perempuan (JKP3). Pernyataan Quraish Shihab dan Huzaemah itu menjelaskan pandangan keduanya mengenai permohonan M Insa. Pemohon menyebut, UUP Pasal 3, 4, 5, 19, dan 24 berdampak pada pelanggaran hak asasi manusia (HAM) dan bertentangan dengan Undang-Undang Dasar 1945 karena membatasi poligami. Dalam Pasal 3 Ayat 1 disebutkan, "Pada asasnya dalam suatu perkawinan seorang pria hanya boleh mempunyai seorang isteri. Seorang wanita hanya boleh mempunyai seorang suami". Dengan asas tersebut, pasal-pasal berikut menentukan syarat jika suami akan beristri lebih dari satu, antara lain mengajukan permohonan kepada pengadilan (Pasal 4) dengan persetujuan istri atau istri-istri, kepastian suami mampu menjamin keperluan hidup istri-istri dan anak-anak mereka, dan suami berlaku adil terhadap istri-istri dan anak-anak mereka (Pasal 5). Monogami Dalam sidang yang dipimpin Prof Dr Laica Marzuki SH itu, Quraish Shihab menyebutkan, poligami tidak termasuk ibadah murni, melainkan ibadah umum, yaitu aktivitas apa pun selama motivasinya karena tuntunan agama. Karena ibadah umum, harus dicari tujuan aktivitas itu dan hukumnya dan karena itu hukumnya dapat berubah sesuai zaman. Pandangan serupa disampaikan Huzaemah, yaitu pada dasarnya perkawinan menurut Al Quran berasas monogami. Surat An Nissa mensyaratkan dapat berlaku adil, dan jika tidak dapat berlaku adil, cukup satu istri. Meskipun demikian, keduanya menyebutkan, UU Perkawinan tetap membuka peluang poligami, tetapi dengan syarat. Disebutkan juga pandangan Imam Syafei bahwa suami harus dapat menjamin hak anak dan istri. "Kalau satu istri sudah berat tanggungannya bagi suami, apalagi lebih dari satu istri," kata Huzaemah. Dalam konteks itulah, menurut Huzaemah, pemerintah perlu mengatur poligami demi kebaikan umat. Disebutkan juga, dalam kasus poligami terdapat suami yang menelantarkan istri dan anak dan ini melanggar HAM. "Hak istri dan anak-anak yang sudah ada harus dipelihara," kata Huzaemah. Sebelumnya, Eggi Sudjana menyebutkan, Pasal 3 UUP diskriminatif dan melanggar HAM. Jika terjadi ketidakserasian dalam perkawinan, pasangan dapat bercerai atau menikah kembali. Menurut Eggi, meskipun Islam membolehkan perceraian, hal ini tidak disukai, sementara UUP mempersulit perkawinan (poligami). Hal ini, demikian Eggi, mendorong perselingkuhan dan perzinaan. Menjawab pertanyaan anggota majelis hakim MK apakah pernyataan tersebut berdasarkan hasil penelitian atau hipotesis, Eggi menyebutkan, di tempat pelacuran dapat ditemukan laki-laki yang sudah beristri. Ditanya lagi apakah di antara laki-laki yang sudah beristri itu ada yang berpoligami, Eggi mengatakan, hal itu mungkin sekali. Hak konstitusional warga Dalam keterangannya, Ketua Komnas Perempuan Kamala Chandra Kirana menyebutkan, landasan konstitusional UUP selain Pasal 29 tentang kebebasan hak warga negara memeluk agama dan menjalankan ibadat menurut agama dan kepercayaannya adalah juga Pasal 27 UUD 1945, yaitu setiap warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum. Kamala menyebutkan pernyataan HM Amin Iskandar dalam risalah rapat pembahasan UUP pada 1973 bahwa perceraian dan poligami perlu diatur untuk mencegah kesewenang-wenangan. Menurut Kamala, perkawinan bukan hanya ibadah, tetapi juga institusi sosial seperti disebutkan dalam Pasal 1 UUP. Dalam institusi sosial, individu dijamin haknya secara sama oleh konstitusi. Perempuan ketika memasuki perkawinan bertujuan mendapat kebahagiaan. Hak untuk tidak didiskriminasi dan mengalami kekerasan juga dijamin UU. Selain itu, mekanisme seperti disebutkan UUP sudah berjalan. Menurut Kamala, catatan lima tahun terakhir pengadilan negeri agama menunjukkan, 80 persen perkara poligami sudah diputus pengadilan. Pada awal persidangan, Nasaruddin Umar menyebutkan, UUP masih membolehkan poligami, tetapi dengan syarat dan itu tampak pada data pengadilan agama. Pada tahun 2004 dikeluarkan 809 izin poligami dari 1.600 permohonan, 2005 ada 803 izin dari 989 permohonan, dan pada 2006 ada 776 izin dari 948 permohonan. Pada periode sama tercatat jumlah perceraian dengan alasan poligami 813, 879, dan 983 perceraian. Nasaruddin juga menyebutkan hasil penelitian yang menyebutkan, poligami menyebabkan penelantaran istri dan anak-anak. Sementara itu, Ratna Batara Munti mewakili JKP3 menyebutkan, kepentingan pemohon bersifat individual, subyektif, tidak mempertimbangkan kepentingan umum. Jika tidak dibatasi, poligami meningkatkan kekerasan terhadap perempuan dan anak seperti hasil temuan LBH Apik, juga anggota JKP3. Ratna juga menolak anggapan poligami berasal dari tradisi Islam sebab Islam justru membatasi perkawinan poligami dengan jumlah istri tak terbatas. JKP3 meminta agar MK mempertahankan UU Perkawinan seperti bentuknya saat ini sampai ada revisi UU itu di DPR. JKP3 sudah mengusulkan revisi atas UU Perkawinan sebab ketika dibuat tidak memasukkan kepentingan perempuan. UU tersebut menjadi kompromi politik dan hanya ada satu perempuan ikut dalam pembahasannya. (Ninuk MP) Yup, Esia akhirnya masuk ke Sby dan Malang. Gratisan nelpon sesama Esia selama 3 bulan, lumayan jadi penarik. Pas masarcon ke WTC, tenyata antrean sudah lumayan panjang. hehehehe :D Alhasil dari abis jum'atan, ngantre sejam. Dan setelah ditinggal balik, jam 5 sore ke sana lagi, dapat deh dua nomer cantik Esia. Iya, nomer cantik, soalnya kita bisa customized dan pilih nomer sesuai keinginan kita. Ada bebrapa komputer yang disediakan untuk ngecek mana saja nomer yang masih available. Sepertinya Esia dilahirkan untuk apple to apple dengan Flexi yah. Melihat struktur harga dan fasilitasnya yg mirip. - Esia tarifnya Rp 50, flexi tarifnya Rp 49
- Esia ada Esia Gogo, Flexi ada Flexi Combo, kalau mau ke kota lain
- kalau mau internetan kudu pasca bayar dulu
Overal dibandingkan ama starone di surabaya sini, masih mendingan starone kali ... :D - Esia tarifnya Rp 50, starone tarifnya Rp 19 per menit, dan SLJJ satu pulau sesama starone malah hanya Rp 16.5 per menit
- Esia ada Esia Gogo, starone sebelnya ndak ada fasilitas ini [esia menang !]
- kalau mau internetan starone pakai pra bayar bisa, dan sangat stabil, sementara kendati sinyal esia kuat [hebat deh, langsung kuat, dari 81 bts yg direncanakan sudah terbangun sekitar 40an BTS sih], yg jadi masalah, entu sinyal belum stabil.
Karena sinyal yang tidak stabil tersebut, jadinya tiap berapa menit hapenya searching nyari sinyal gitu .... Hayah, gimana mau nelpon sejam cuman Rp 1000 perak nih ... :P Wimodenya belum nyoba nih buat internetan. Ada yg mau review ? Ada dua jenis, yang 499 rb dan yang 799 rb. Yang lebih mahal, kendati dipakai di laptop, bisa dipakai smsan dan nerima telpon. Walah, asik juga tuh ... :D Setidaknya lebih murah dibandingkan modem wireless Huawei 3G yang ditawarkan Indosat. Iya, istriku sayang terinspirasi tante I, adik dari ibunda masarcon yang mencurahkan segenap hati dan kehidupannya demi kemajuan pendidikan anak anaknya. Lha istri sayang sekarang aktifnya di kegiatan sosial, jee. Terutamanya di posyandu dan PADU – pendidikan anak dini usia. Tante I memang berupaya keras, mendedikasikan dirinya supaya bisa mengawal anak anaknya mendapatkan jalur sesuai bakatnya, dan membantu mereka mengakselerasi diri di jalur pilihannya, barulah tante satu ini madheg pandito dan belajar bikin bisnis. Buka distro dan FO kecil kecilan. [Dan bisnisan ini baru dilakukan setelah hampir 20 tahun pernikahan jeeee …]. Setelah sang putri tersayangnya mentas, dan kuliah musik di luar negeri. Bayangkan demi cita cita, si anak untuk masuk sekolah musik, kendati keterima juga di kedokteran --> kalau yg ini sih, harapan tante saya hehehehe]. Padahal kan masarcon agak berharap sang istri sayang punya kemandirian finansial, dengan kata lain, jangan jadi feminis yang totalitas memilih mengabdi sepenuhnya pada urusan domestik dan keluarga, lebih baik kalau yayang memilih jadi feminis bohongan modelnya anak anak HT atau PKS.* Lho, apa gak salah dengar ? Anak PKS dan HT = Feminis bohongan ? Ya, anak anak HT dan PKS memang feminis bohongan. Mereka kan aslinya banyak yang ibu berkarir, anak banyak dan masih punya gawean seabrek kerjaan di luaran sana. Dan gaweannya, rata rata gawean serius yang menghasilkan duit. Lihat saja, Helvy elain jadi aktipis super sibuk juga jadi dosen, Emmy Soekresno punya beberapa playgorup dan TK, Asma Nadia jadi bossnya penerbitan FLP, mbak Pj jadi guru fulltime yg megawe dari jam 7 teng sampai jam 5 teng, rekan Nin juga masih sibuk berkarir di tempat bang Adi, sering pulang sampai malam, beberapa mbak mbak FLP jebolan STAN juga masih asik kerja keras di kantor pajak, bahkan pilih jadi A/R atau penyidik di KPP modern, yang beban kerjanya seperti kuda. Beberapa teman pengajian di kantor lama, juga aktivis mesjid, meski worker – hanya beberapa yang supervisor, juga memilih larut dalam kerja rutin berganti ganti shift, kendati sudah punya beberapa anak, pilihan mereka pasti, terus kerja sekaligus berperan dalam dakwah industri. Anak HT jangan di tanya, si mbak HT di Ngalam yang jadi narasumber karya tulis ttg wanita waktu karya tulis Unsyiah dulu, selain jadi dosen di Unisma juga punya bisnisan playgroup dan SDIT. Di Malang, anak HT jebolan IKIP dan Unibraw Peternakan/Pertanian biasanya ngeramein Magistra Utama, STIKMA Internasional, dan beberapa institusi lainnya. Mbak Aris juga masih sibuk berjihad jadi humasnya IPB. Mereka merelakan dirinya menjadi pekerja fulltime sampai lupa daratan anak mereka yang banyak tanpa sadar keleleran dan kurang perhatian. Yang penting dapurnya ngepul terus. Benar benar jenis feminis [padahal mereka ngakunya anti feminis]. Dan diajari di pengajian untuk membenci makhluk yang namanya feminis sampai ke tulang sumsumnya. Kalau mau baca majalah Ummi edisi no. 4/XIX Agustus 2007/1428 H bisa dilihat kalau para redaktur Ummi sangat menginginkan kaum wanitanya menjadi “Perempuan Bebas Finansial”. Mungkin daya tawar ini memang diperlukan kaum wanita PKS yang dalam kolom lain, sedang pusing karena ada tema berjudul “Suami Minta Izin Menikah Lagi”, tema manis gurih yang mau tidak mau harus diamini oleh para pembahasnya karena tuntutan kesesuaian dengan ideologi. Ijin dari istri pertama harus menjadi keniscayaan. Heiran, entu Ustad Cahyadi Takariawan lagi di mana yah ? Yang jadi tanda tanya besar adalah, jika semampang ini kita hanya tahu kalau kaum wanita PKS dan HT diarahkan menjadi ibu rumah tangga thok thil. Lalu mengapa keseharian mereka beda dengan kenyataan yah. Bahkan apa yang dituliskan di majalah ideologisnya beda dengan mabda-nya/beda dengan konsep tarbiyahnya. Apakah memang ada pemberontakan diam diam ? Dingin. Sunyi sesaat. * Dengan demikian masarcon nggak ragu lagi jadi PNS di Mamuju, sementara istri tersayang ditinggalkan sendirian selama 3 tahun di jawa. Yah, minimal meski dibalikin ke rumah mertua, juga nggak ngeberatin secara finansial dan kehormatan karena nebeng duwit ortu lah … :P Kan udah mandiri secara finansial seperti yg diajarkan rekan HT dan PKS yg baik budi. * Lihat juga jurnal sebelumnya tentang Grameen bank, di sana M.A. Mannan yang ahli Ekonomi Islam dari IDB - Islamic Development Bank yang tulisannya disarikan oleh M. Akhyar Adnan, menggugat konsep Yunus karena melakukan pemberdayaan ekonomi di kalangan perempuan Bangladesh. Menurut penulis artikel itu [Entah Manan entah Adnan], hal ini menyebabkan percerian yang tinggi di Bangladesh. Greemen Bank dan Bank Syariah Indonesia
Oleh :
Muhammad Akhyar Adnan Dosen UII Yogyakarta, Associate Professor di International Islamic University, Malaysia.
Akhirnya, atas undangan resmi Pemerintah RI, Muhammad Yunus, pendiri dan sekaligus Managing Director Grameen Bank dari Bangladesh sampai juga di Indonesia. Grameen Bank yang tidak bisa dilepaskan dari sosok M Yunus, memang sudah sangat terkenal. Selain sudah cukup lama berdiri (sekitar 24 tahun), bank ini dikenal dengan segala keunikannya yang kadang-kadang 'berbeda' diametral dengan industri perbankan pada umumnya.
Salah satu puncak pencapaian Grameen Bank adalah ketika sang pendiri dan pemimpin tertingginya, M Yunus mendapat anugerah Nobel pada tahun 2006 yang lalu. Ini semua membuat nama Grameen Bank semakin menjulang, baik di Barat maupun di Timur. Makin banyak ia dirujuk, dicontoh, dan diteladani. Setidaknya makin sering sang pendiri dan manajer puncaknya diundang untuk berceramah menceritakan keberhasilannya di berbagai kota di dunia. Uniknya lagi, timbul juga persepsi bahwa Grameen Bank adalah bank yang lebih 'Islami' dibandingkan bank syariah, sebuah ungkapan yang dilontarkan oleh seorang tokoh perbankan syariah nasional belum lama ini ketika beliau berkunjung ke International Islamic University, Malaysia.
Kita tentu sangat menghargai segala pencapaian Grameen Bank tersebut. Namun, semestinya tidak pula boleh silau dengan segala prestasi tersebut. Mengapa? Karena, di balik 'keberhasilan' Grameen Bank, ada beberapa catatan penting yang harus juga diketahui siapapun, sehingga dapat melihat bank tersebut secara lebih berimbang, dan tidak terjebak pada proses pencontohan taqlid (buta), yang kemudian tidak memberikan hasil apapun.
Terus terang, tulisan ini diilhami oleh dan merujuk pada dua makalah berbeda. Pertama, karya Prof MA Mannan, Alternative Credit Models in Bangladesh: A Comparative Analysis Between Grameen Bank and Social Investment Ltd: Myths and Realities. Makalah ini dipresentasikan dalam First International Islamic Conference on Inclusive Islamic Financial Sector Development pada 17-19 April 2007 yang lalu di Brunei Darussalam. Kedua, presentasi Prof Rodney Wilson, yang bertajuk Making Development Assistance Sustainable through Islamic Microfinance dalam IIUM International Conference on Islamic Banking and Finance, 23-25 April 2007 di Kuala Lumpur.
Catatan penting Di antara hal-hal penting dari sisi lain Grameen Bank yang perlu, namun tak banyak diketahui adalah sebagai berikut. Pertama, Grameen Bank sama sekali tidak beroperasi berdasarkan hukum syariah Islam. Ini berarti bunga yang diakui oleh banyak ulama modern dunia sebagai sesuatu yang diharamkan (riba), tetap menjadi instrumen penting bagi operasi Grameen bank.
Tidak hanya hanya itu, menurut Prof Mannan, tingkat bunga pinjaman di Grameen Bank adalah 54 persen. Sebuah angka yang sesungguhnya luar biasa mencekik. Lebih parah lagi, bila hidden costs (biaya-biaya tersembunyi, seperti biaya keanggotaan, dokumentasi, kewajiban provisi atas jumlah dana yang diblok dan lain sebagainya) diperhitungkan. Maka sesungguhnya tingkat bunganya mencapai 86 persen, sebuah angka yang sangat jauh dibandingkan bank konvensional pada umumnya, dan tentunya sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan bank syariah sama sekali.
Kedua, model kredit mikro Grameen Bank merupakan versi baru dari ekonomi feodal dalam konteks hubungan peminjam dan pemberi pinjaman. Ketiga, model operasi kredit mikro Grameen Bank didasari asumsi implisit konflik kelompok dan paradigma neoklasik ortodoks Barat tentang ekonomi bebas nilai, yang cenderung pada upaya pemberdayaan wanita [saja], karena 95 persen nasabahnya adalah wanita. Konsekuensinya, seperti juga ditegaskan Rodney Wilson, banyak keluarga (nasabah) yang berantakan akibat perceraian.
Keempat, Grameen Bank berdiri atas landasan hukum yang berbeda dibandingkan usaha perbankan pada umumnya. Mungkin karena faktor ini, atau faktor lainnya, bank ini terbebas dari proses audit, baik oleh bank sentral, maupun audit eksternal lainnya. Tanpa bermaksud berprasangka negatif, ini tentunya mempunyai konsekuensi signifikan akan laporan pencapaian prestasinya. Setidaknya transparansi laporannya tidak memenuhi syarat standar good corporate governance.
Kelima, boleh jadi terkait ataupun tidak dengan faktor keempat, ternyata Grameen Bank juga mendapat fasilitas bebas pajak sama sekali. Ini merupakan hak istimewa luar biasa yang dimiliki Grameen Bank, di balik kemajuan pesat dan tentunya laba besar yang didapatkan dari tingginya tingkat bunga yang diterapkan kepada para nasabahnya.
Adalah menarik juga mengutip sebagian data dari tulisan Prof Mannan yang disarikan dari sebuah harian Bengali bernama Shomokal, yang terbit pada 19 Februari 2007. Harian ini menceritakan kondisi sebuah desa bernama Hillary Palli yang selalu menjadi desa kebanggaan (show-piece village) Grameen Bank. Dilaporkan bahwa kondisi desa ini memburuk, sehingga masyarakatnya tidak bisa keluar dari lilitan utang kepada Grameen Bank setelah 12 tahun. Banyak dari penduduk desa ini yang kemudian 'terpaksa' menjual tanah mereka, sehingga mereka menjadi orang yang tak punya tanah dalam arti sesungguhnya.
Apa yang disajikan ini, bila dibandingkan dengan filosofi dan orientasi bank syariah pada umumnya tentu sangat berbeda, untuk tidak mengatakan bertolak belakang sama sekali. Oleh karena itu, bila saja sejumlah bank atau usaha kredit mikro di Indonesia (khususnya yang berasas syariah) selama ini kagum pada Grameen Bank dan ingin mencontoh 'keberhasilannya', seyogianya (bank tersebut melakukannya) bukan tanpa reserve. Beberapa persoalan yang dibahas di awal tulisan ini haruslah menjadi perhatian semua pihak, agar tidak terjadi proses salah contoh, sehingga semakin menjauhkan bank syariah dari asasnya. Begitu pula, para pakar perlu lebih berhati-hati dalam memberikan ulasan, sehingga tidak terjadi proses 'memuji' yang salah, dan 'mencibir' yang benar, betapapun yang disebut terakhir mungkin belum sempurna dalam proses dan atau pencapaian tujuan-tujuannya.
 Khilafah bukan Teokrasi. Demikian ditekankan oleh rekan rekan HTI. Pakailah syariat Tuhan, jgn pakai UU bikinan manusia. Dengan demikian HTI merayakan runtuhnya kekhalifahan Usmaniyah pada tanggal 12 Agustus kemarin. Heibatnya rekan rekan HTI berani klaim PBNU merestui urusan khilafah ini, meskipun dari salah satu sumber menyebutkan Hasyim Muzadi menolak datang ke acara tersebut. Penolakan yang sama disuarakan oleh Yunahar Ilyas dari Muhammadiyah dan Ma'rif Amin ketua MUI. Foto bersumber dari sini Ternyata yang kritis thd peranan BP POM dalam menjalankan "bisnis" nya tidak hanya mas Enade - teman masarcon di jurnal sebelumnya. Mas Kopidangdut - alias Rio Wardhanu ternyata juga merasakan hal yang sama. Jaman jaman dulu memang sering mendengar sih kasak kusuk perpolitikan uang tingkat tinggi berkenaan dengan urusan peredaran obat di Indonesia. Sempat dibahas saat itu di media massa kalau sebenarnya hanya ada sekitar 30 jenis obat yang esensial penggunaannya bagi kita, bahkan di Jerman saja - yang terkenal dengan industri farmasinya -waktu itu hanya ada sekitar 3000 obat yg beredar. CMIIW yah. maklum ngerecall hal hal yg sudah qola wa qola. Sementara di Indonesia tercinta ini, yang hanya tukang bikin dengan lisensi asing itu, konon sudah berpuluh ribu jenis obat yg beredar. Wayah .. Aku agak heran, mengapa ada teman, jebolan farmasi yang membela makanan berformalin. menurutnya, makan mie berformalin sebanyak satu kilo tiap hari selama satu tahun tidak ditemukan efek toksik. Lho kok bisa yah. Teman ini sendiri melakukan pembelaan dengan motif melindungi para pelaku UKM. --> toh IPB yang katanya mengembangkan pengawet makanan yang sehat juga tidak kedengaran lagi kabarnya. Lebih lanjut teman saya itu mengklaim kalau makan makanan yang menggunakan formalin sebagai pengawet [misalnya mie dengan kadar tertinggi seperti yang ditemukan di lapangan] justru tidak lebih berbahaya dibandingkan makan sate ayam. Teman ini memberikan argumen kuncian dengan laporan dari WHO. Sangat menarik perhatian sih jadinya. Duh, hari gini, jadi korban propaganda terus ... :( Ini terbitan WHO mengenai formalin: http://www.who.int/entity/ipcs/publi...en/cicad40.pdf sangat jelas dibahas di section 6.1.6, bab 8 dan bab 9 http://pks-jogja.org/detail.php?ID=257&cat=Artikel dan di http://www.indopos.co.id/index.php?act=detail_c&id=297432 === PAK CAHYADI DAN BUKU SATU ISTRI pks-jogja.org | Keluarga | MIS | 2007-05-18 | Sudah dibaca : 107 kali
PAK CAHYADI DAN BUKU “SATU ISTRI” Oleh: M.I. Sunnah
Siang itu telpon Kantor DPW PKS DIY berdering kencang. Seorang “ikhwan” mengaku dari sebuah Yayasan Ibu-ibu di Jakarta mencari Pak Cahyadi Takariawan. “Betul ini kantor Pak Cahyadi?” tanyanya dari sebrang sana. Saya jawab, “Ya, Pak Cahyadi pernah berkantor di sini karena dulu Beliau Wakil Ketua DPW PK DIY. Mau megundang Pak Cahyadi, ya?” tebakku kemudian. “Ya, Pak. Kami mau mengudang Pak Cahyadi untuk bedah bukunya yang terbaru!” jawab ikhwan itu dengan mantab. “O…buku Bahagiakan Diri dengan Satu Istri ya?” tanyaku menyelidik. “Ya, di sini buku itu telah menjadi pusat perbincangan Pak. Teman-teman di sini ingin klarifikasi dengan penulisnya.” Ujar ikhwan itu semakin bersemangat. “O….ya. Gimana tanggapan teman-teman di sini?” pancingku. Tak terduga terocosan kata-kata berikutnya sungguh mengagetkan. Betapa tidak, ‘ikhwan” itu bilang, “Di sini buku itu dinilai telah merusak aqidah ummat karena isinya menakuti-nakuti orang melakukan pligami yang jelas-jelas dibenarkan oleh syariat Islam!”. “Masya Allah, masa iya to?” tanyaku membalut kegusaranku. Lalu sekenanya kukatakan, “O ya… mungkin itu karena hanya membaca jilid pertamanya saja. Saya dengar dari istri Pak Cahyadi, kalau edisi ini sukses, mungkin Pak Cahyadi akan menulis jilid keduanya dengan judul “Bahagiakan Diri dengan Dua istri. Jilid ketiganya, Bahagiakan Diri dengan Tiga Istri” dan seterusnya….”. Lalu kami sama-sama tertawa. Suatu hari saya telpon Pak Cahyadi untuk menanyakan masalah ini. Menurut beliau, memang pada pekan-pekan bulan terakhir ini banyak sekali yang menelpon atau tepatnya semacam menteror dirinya secara tidak langsung. Biasanya mereka menelpon ke Kantor Penerbit Era Intermedia, atau ke Kantor DPP. “Tampaknya, banyak yang salah paham terhadap buku saya itu. Bahkan, ada yang menganggap saya ini antipoligami”, jelasnya serius. “Padahal jika dicermati, buku itu hanya memposisikan pemahaman atas disyariatkannya poligami dan memberi rambu-rambu pertimbangan bagi yang hendak menempuhnya. Saya juga heran mengapa koq bisa begini jadinya….” tambahnya kemudian.
Akibat buku terbarunya ini pula, teman-teman komunitas muslim di Australia juga bermaksud mengundang penulis produktif buku-buku wanita dan keluarga ini. Insya Allah kalau lancer semuanya, mungkin bulan Juni nanti Pak Cahyadi akan berangkat ke Negeri Kanguru. Sebenarnya seperti apakah buku yang menghebohkan kalangan muslimah ini? Berikut ini resensi buku tersebut (MIS).
SINOPSIS BUKU Bahagiakan Diri dengan Satu Istri 312 hlm. 14 x 20,5 cm, Rp. 34000,- (Sumber: http://www.eraintermedia.com) Sejarah kehidupan Nabi mencatat bahwa beliau melakukan monogami selama hampir 25 tahun dengan Khadijah, sedangkan kehidupan berpoligami dijalani selama 10 tahun, sebagaimana diwartakan Aisyah r.a., "Nabi Saw. tidak memadu Khadijah hingga dia meninggal dunia." (HR. Muslim) Jika sebagian tokoh gencar memperkenalkan poligami sebagai Sunah Nabi yang terkesan `harus diikuti' dengan menegasikan nilai-nilai positif monogami, tentu saja ini aneh. Apalagi pembolehan syariat untuk menikahi hingga empat perempuan pun ditetapkan di zaman ketika kaum lelaki dianggap wajar memiliki puluhan bahkan ratusan istri. Namun di sisi lain, kita juga merasa pilu bila menyaksikan para janda akibat konflik di Ambon dan Ternate yang menghajatkan hadirnya pengganti mendiang suami mereka, sementara mengharapkan jejaka yang secara sukarela menikahinya sangatlah sulit. Di sini kita memahami betapa Islam sangatlah bijak memperbolehkan poligami. Sungguh tidak layak jika masalah poligami yang ramai dibicarakan khalayak harus membuat hati lelaki berbunga-bunga, hati perempuan menjadi kecut, lalu para mubalig disibukkan dengan menjelaskan nilai-nilai positifnya, hanya dengan alasan `membela syariat'. Jujur saja, di alam realitas, amalan syar'i yang satu ini memang tidak mudah diwujudkan karena banyaknya faktor yang memengaruhi.Buku ini hadir bukan untuk melibatkan diri dalam `komunikasi rumit' antara pihak lelaki dengan perempuan dalam isu poligami. Namun, ia ingin berbicara lebih bersahaja; memahami ketetapan syariat sekaligus memahami konteks di alam realitas. Sesuai judulnya, karya ini mengungkap lebih jujur berbagai hal seputar indahnya berumah tangga dengan satu istri. === http://www.indopos.co.id/index.php?act=detail_c&id=297432 Kamis, 02 Agt 2007, Bersyukur setelah Baca Suami Batal Kawin Lagi Ketika Buku Antipoligami Membikin Kader PKS "Terbelah" Seorang anggota Majelis Syura Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang disegani menulis buku Bahagiakan Diri dengan Satu Istri. Karya itu langsung disambut gembira jutaan kader wanita PKS. Namun, sebaliknya, para kader pria yang sudah atau akan berpoligami mereaksi dengan keras.
RIDLWAN HABIB, Jakarta
RUANGAN Kantor Hilal al Ahmar di kawasan Duren Tiga, Jakarta Selatan, siang itu terasa gerah. Bukan karena cuaca Jakarta terik. Juga bukan disebabkan pendingin ruangan tidak berfungsi. Tapi, karena buku yang ditulis Cahyadi Takariawan itu memicu kontroversi yang panas.
"Buku ini memang harus segera ditarik. Hati saya membara membacanya," ujar Wakil Bendahara Umum DPP PKS Didin Amarudin kepada Jawa Pos. Saat itu lelaki beristri tiga itu datang pada acara dengan ditemani empat orang pengurus DPP yang lain.
Menurut Didin, sejak buku itu terbit, istri-istrinya menjadi gelisah. "Bahkan, istri kedua saya menghubungi temannya yang juga dipoligami dan bikin bedah buku khusus untuk ini," katanya.
Pria kelahiran Kuningan, Jawa Barat, itu mengakui buku Cahyadi Takariawan itu mengubah paradigma umum di kalangan wanita PKS yang selama ini mendukung poligami. "Kalau yang menulis orang luar atau orang yang sekuler, saya tidak heran. Tapi, ini yang menulis adalah ustad yang kredibilitasnya sangat diakui di Majelis Syura PKS," kata Didin.
Majelis syura adalah elemen tertinggi di partai yang berdiri sejak 1998 (awalnya bernama Partai Keadilan). Anggota majelis hanya 99 orang yang dipilih dari jutaan kader PKS di seluruh Indonesia.
Didin mengatakan, para qiyadah (pimpinan) partai gelisah karena buku itu dijadikan simbol perlawanan terhadap suami yang akan menikah lagi. "Rumah saya satu kompleks dengan Pak Tifatul (Tifatul Sembiring, presiden PKS, Red). Beliau juga khawatir, tapi selama ini memang memilih diam," ujar bapak tujuh putra itu. Tifatul Sembiring juga beristri dua. Sekretaris Jenderal PKS Anis Matta juga berpoligami. Bahkan, istri kedua Anis berkebangsaan asing.
"Buku Pak Cah (Cahyadi Takariawan) itu hanya menonjolkan sisi-sisi negatif dari poligami, seakan-akan ribet banget, padahal tidak benar," katanya.
Didin lalu melanjutkan kisah "sukses" poligami dirinya. Istri pertama Didin dinikahi pada 1990. Lalu, istri kedua pada 2001. Terakhir, Didin menikahi akhwat (kader PKS) menjadi istri ketiga pada 2002. "Memang, biasanya dari istri pertama ke yang kedua itu lama pendekatannya, Mas. Baru yang ketiga lancar," tuturnya.
Manajemen keluarganya, kata Didin, malah terbantu ketika dirinya berpoligami. "Kalau kita berhitung secara matematis, anak tujuh dirawat dan dididik tiga istri kan lebih baik," ujarnya.
Dia khawatir buku Cahyadi akan menimbulkan pro-kontra di kalangan rumah tangga muslim masing-masing kader. "Ada jutaan akhwat di Indonesia. Beberapa di antara mereka janda. Lantas, apakah mereka kita biarkan," katanya dengan nada bertanya.
Taufik Bahtiar, direktur Hilal al Ahmar, menambahkan bahwa ada beberapa logika yang tidak tepat dan dicantumkan dalam buku ber-cover merah jambu itu. "Misalnya, tentang cinta lelaki yang tidak bisa dibagi, itu salah. Contohnya, saya. Kalau dengan istri pertama 100 persen, dengan istri kedua juga 100 persen," ujarnya, lalu tersenyum.
Taufik juga berpoligami. Istri pertama meminta cerai ketika Taufik hendak menikah kali ketiga. Sekarang janda Taufik itu diperistri sahabatnya yang juga anggota Majelis Syura PKS sebagai istri kedua.
Buku terbitan Era Intermedia, Solo, tersebut telah dicetak hingga 10.000 eksemplar. Buku setebal 278 halaman itu mengupas sisi-sisi lain dari keluarga yang berpoligami.
Si penulis Cahyadi Takariawan kepada Jawa Pos mengatakan bahwa dirinya kaget melihat reaksi "jamaahnya" terhadap buku itu. "Padahal, di halaman awal buku itu saya sudah jelaskan tidak berbicara tentang hukum poligami, tapi bicara tentang mereka yang gagal berpoligami karena persiapannya kurang," katanya.
Alumnus Fakultas Farmasi UGM itu mengibaratkan poligami dengan salat. "Siapa yang membantah kalau salat itu wajib. Tapi, pada praktiknya, banyak yang salat, tapi tetap korupsi. Banyak yang salat, tapi menipu, mencuri, dan kejahatan yang lain. Apakah yang salah salatnya?" katanya.
Demikian juga, poligami. Melalui bukunya, suami Ida Nur Laila itu ingin "meluruskan" para pelaku poligami. "Bukan untuk mengampanyekan antipoligami," kata suami yang bertahan dengan satu istri itu.
Cahyadi mengaku mendapat banyak sekali keluhan dari ummahat (ibu-ibu istri ikhwan alias kader PKS) yang mengalami masalah gara-gara suaminya menikah lagi. "Kebetulan, saya juga konsultan keluarga. Selain datang langsung, mereka juga menelepon dan mengirim SMS," kata ketua Wilayah Dakwah (Wilda) III DPP PKS itu. Sebagai ketua Wilda, Cahyadi bertanggung jawab pada ekspansi PKS di Sulawesi dan Papua.
Karena keluhan-keluhan itu datang bertubi-tubi, Cahyadi berusaha meramunya dalam tulisan. Misalnya, keluhan tentang kebohongan-kebohongan suami yang menikah lagi. Juga masalah finansial yang membuat pernikahan menjadi tidak harmonis.
"Yang menyedihkan, ada suami yang buru-buru poligami hanya karena dikompori komunitasnya yang semuanya sudah menikah lagi. Padahal, dia belum siap. Akhirnya, yang terbengkalai adalah keluarganya," bebernya. Padahal, seharusnya poligami justru membawa keberkahan.
Sebelum menulis buku Bahagiakan Diri dengan Satu Istri, Cahyadi telah menulis 20 judul buku yang lain. Mayoritas tentang tema pernikahan. "Saya tidak bermaksud melukai hati para lelaki yang berpoligami. Karena itu, saya malah minta Bu Sri Rahayu Tifatul Sembiring sebagai istri pertama menulis kata sambutan," katanya.
Dalam bedah buku yang dilakukan hampir tiap minggu, Cahyadi juga menolak dipanelkan dengan aktivis antipoligami. "Saya yakin masalah ini akan hipersensitif karena kebanyakan yang membaca dipenuhi dengan emosi pribadi. Jadi, tidak jernih lagi," ujarnya.
Seorang pembaca bahkan komplain langsung ke penerbit. Pembaca itu merasa rahasia rumah tangganya ditulis Cahyadi. "Buku ini harus segera ditarik dari peredaran," kata Cahyadi menirukan ikhwan yang emosi itu. Padahal, dirinya belum pernah kenal. "Jadi, dia sendiri yang merasa bahwa apa yang saya tulis dalam buku itu cocok," jelas pria yang juga berprofesi sebagai apoteker itu.
Getah pahit, kata Cahyadi, juga nyasar ke teman-temannya yang ikut mempromosikan buku. "Misalnya, Mbak Neno Warisman. Gara-gara Mbak Neno aktif mengirimkan SMS soal buku ini, beliau dikomplain, terutama oleh kader-kader wanita yang sudah mempunyai madu," ungkapnya. Neno Warisman adalah salah seorang aktris sekaligus penyanyi yang sekarang aktif di PKS.
Apakah akan membuat buku baru lagi sebagai jawaban atas komplain? Cahyadi mengaku akan melakukan beberapa revisi. "Saya menghargai nasihat para asatidz (ulama) yang meminta redaksionalnya diperbaiki," katanya.
Meski begitu, lelaki kelahiran Karanganyar, Jawa Tengah, 11 Desember 1965, itu tetap menganggap bukunya tidak kontroversial. "Kalau saya menulis Sengsarakan Istri dengan Satu Istri, itu baru masalah. Kalau bahagia, kan semua ingin begitu," tegasnya.
Namun, keyakinan Cahyadi tetap berbenturan dengan realita di lapangan. Di Jawa Timur, misalnya, Ketua Dewan Syariah DPW PKS Jatim Ustad Mudhofar mengaku mendapat keluhan terkait buku itu. "Ada seorang akhwat yang skripsinya mendukung poligami, bertahun-tahun kader wanita ini bicara dalam diskusi-diskusi agar poligami didukung, tapi begitu membaca Pak Cah, langsung berbalik 180 derajat," paparnya kepada Jawa Pos.
Kuatnya buku itu, kata Mudhofar, karena track record penulisnya. "Pak Cahyadi selama ini dikenal sebagai ulama yang ahli dalam keluarga. Wajar kalau ada yang jadi ragu karena tulisannya," tuturnya.
Mudhofar menganggap dalil-dalil yang dipakai Cahyadi agak dipaksakan. "Misalnya, soal perbandingan umur Rasulullah saat sebelum poligami dan setelah poligami. Tidak ada ulama yang menggunakan patokan itu," jelasnya. Cahyadi menulis, Muhammad SAW menikah lagi setelah bermonogami selama 25 tahun bersama Khadijah.
Wakil Ketua Komisi E DPRD Jatim Rofi’ Munawar menambahkan, dirinya membatalkan meneruskan membaca buku itu sampai tuntas. "Saya juga dapat hadiah dari beliau (penulis buku) saat rapat majelis syura. Tapi, begitu saya baca, tidak saya lanjutkan karena kok ada yang nggak sreg," akunya.
Berbeda dengan kader-kader lelaki PKS, beberapa orang kader wanita yang dihubungi Jawa Pos justru sangat bersyukur atas terbitnya tulisan Cahyadi itu. "Suami saya menjadi ragu-ragu. Sebenarnya saya sudah akan mengizinkan, tapi setelah membaca, saya diskusi lagi, dan alhamdulillah batal (menikah lagi)," kata seorang kader yang meminta identitasnya disamarkan.
Alumnus Universitas Airlangga Surabaya itu melanjutkan, di kalangan internal kader wanita, buku itu seakan menjadi buku wajib. "Dalam setiap pertemuan mingguan, ada diskusi untuk membahas buku itu bab demi bab," katanya. Kader PKS biasanya mengadakan taklim rutin sehari dalam setiap pekan. Tempatnya bergantian di rumah masing-masing kader atau tempat lain yang disepakati.
Seorang akhwat lain menambahkan, dirinya menjadi lebih siap untuk menikah setelah membaca buku Cahyadi. "Tidak ada lagi rasa khawatir calon suami saya akan poligami. Nanti kalau dia memaksa, akan saya pertemukan langsung dengan Pak Cah," ujarnya. (*) * foto dan tulisan bersumber dari web pks jogja dan indopos Diskusi dengan sesama rekan berkaitan dengan pangeran Antasari yang membunuh 50 orang penginjil kristen di atas sebuah kapal dalam rangka menolak penyebaran agama kristen mengerucut pada satu titik. memerangi suatu wilayah cuma krn raja wilayah tersebut ga mau memeluk agama yg bersangkutan obviously is wrong on any count, it's common sense. if i kill ur whole family just bcoz u dun let ur siblings to play with me, would u justify my action?padahal rekan rekan Hizbut Tahrir dan kalangan Salafy justru mendukung paham jihad offensif ini. Berikut di bawah ini link diskusi antara masarcon dengan mbak aris solihah di ppiindia tentang masalah ini. silakan dicermati lagi dan dipikirkan.
===
*Ketiga*: manakala dakwah Islam yang dilakukan oleh Daulah Islam (Khilafah) dihadang oleh penguasa kafir dengan kekuatan fisik mereka. Dakwah adalah seruan pemikiran, non fisik. Manakala dihalangi secara fisik, wajib kaum Muslim berjihad untuk melindungi dakwah dan menghilangkan halangan-halangan fisik yang ada di hadapannya dibawah pimpinan khalifah. Inilah yang disebut dengan jihad ofensif (*hujûmî*). Inilah pula yang dilakukan oleh Rasulullah saw. dan para Sahabat setelah mereka berhasil mendirikan Daulah Islam di Madinah. Mereka tidak pernah berhenti berjihad (berperang) dalam rangka menghilangkan halangan-halangan fisik demi tersebarluaskannya dakwah Islam dan demi tegaknya kalimat-kalimat Allah. Dengan jihad ofensif itulah Islam tersebar ke seluruh dunia dan wilayah kekuasaan Islam pun semakin meluas, menguasai berbagai belahan dunia. Ini adalah fakta sejarah yang tidak bisa dibantah. Bahkan jihad (perang) merupakan metode Islam dalam penyebaran dakwah Islam oleh negara (Daulah Islam). Allah SWT berfirman:
وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لاََ تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ ِللهِ
*Perangilah oleh kalian mereka (orang-orang kafir) hingga tidak ada lagi fitnah (kekufuran) dan agama ini (Islam) hanya milik Allah.* *(QS al-Baqarah [2]: 193).*
 | Guestbook | |
 | mari kita optimalkan hidup kita ibadah. |
 | Assalamualaikum wrwb Salam kenal. Kami ingin berbagi informasi bagi anda yg ingin melaksanakan Aqiqah bagi putra/i tercinta atau utk diri sendiri. Insya Allah Rumah Aqiqah siap membantu dan menyalurkan kepada orang2 yg membutuhkan. Kunjungi website Rumah Aqiqah atau konsultasi via email. Pemesanan bisa secara online juga :) Terima kasih semoga informasi ini bermanfaat. Wassalamualaikum wrwb Rumah Aqiqah Website: http://www.rumahaqiqah.orgEmail : welcome@rumahaqiqah.org |
 | Telur Gabus Ci Rose Gurih n Renyah ketika digigit. Dibalut karamel bertabur wijen. Yang lihat fotonya langsung ngiler. Gratis ongkir bagi mereka yang order sebelum hari senin n add di http://cirosesnack.multiply.com/ |
 | Trimakasih ............udah mampir di "Rumah Kami". Salam kenal kami dari Hildesheim, Jerman. |
 | Do'a yang terbaik untuk Pak Ari....Semoga semakin berkurang umurnya semakin bijak dalam menjalani hidup dan senantiasa di berkahi oleh Allah -Subhana wa Ta'ala-...amin |
 | thnx sudah mampir pak ari |
 | Met Lebaran yee.. Minal Aidzin walfaidzin...  |
 | udah capek nulis yang asbun. ntar aja deh kalau lagi ada momen momen nyolot, hehehehe :) |
 | mana nih artikel asbun lainnya? |
 | Dengan Hormat,
Kami ingin mengundang anda mengunjungi www.tokoinge.com - Online Store for Baby & Kidz
Di www.tokoinge.com anda dapat menemukan berbagai macam mainan seperti permainan edukasi, permainan untuk keluarga, mainan kreatif, buku, peralatan tulis, dll. Kami memberikan produk anak terbaik dan harga kompetitif. Pengiriman mudah langsung ke rumah anda atau teman dan saudara dibungkus dengan kertas kado cantik dan kartu ucapan. Juga, pada setiap pembelian anda mendapatkan Bonus Point yang dapat dikumpulkan dan dapat digunakan untuk pembelian berikutnya.
Sebagai bonus tambahan, kami menyediakan informasi dan berita terbaru mengenai anak dan orang tua. Berbelanjalah dengan mereka yang peduli mengenai anak-anak dan pendidikannya!
Salam hangat,
TokoInge.com
|
 | longok2 dulu situsnya. trims |
 | Happy Birthday! Wishing u all da best ^_^
"Whatever with the past has gone, the best is always yet to come"~Lucy Larcom |
 | Assalamualaikum, Pak Ari, Salam Kenal |
 | Assalamualaikum, Pak Ari, Salam Kenal dari BAZ Jatim |
 | arcon... kapan ke jakarta..?? |
 | lho...., pindah ke Surabaya tho? |
| |